Oleh: bebaskanbibitchandra | November 16, 2009

Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

cicak4Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!

Oleh : Rina Dewreight

http://faktakriminalisasi.wordpress.com/2009/11/12/fakta-di-balik-kriminalisasi-kpk-dan-keterlibatan-sby/

 

Oleh: bebaskanbibitchandra | November 11, 2009

Gerakan Facebookers Kecam Komisi III Dekati Angka 25 Ribu

Moksa Hutasoit – detikNews


Jakarta – Meski tidak secepat dalam kasus Bibit dan Chandra, anggota ‘gerakan facebookers kecam Komisi III’ terus menggeliat. Angka di dalam account tersebut kini sudah mendekati 25 ribu anggota.

Pantauan detikcom Rabu (11/11/2009) pukul 05.00 WIB, anggota yang tercatat sudah mencapai 24,482. Jika dibandingkan 8 November lalu yang baru mencapai 2.500, penambahan anggota di account ini cukup mengejutkan.

Ricuh yang terjadi saat rapat antara Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) dengan komisi III DPR juga menambah derasnya dukungan. Hal ini bisa terlihat dari beberapa komentar yang mencibir perilaku para wakil rakyat tersebut.

Tengoklah apa yang dikatakan Hananto Wasisto setelah melihat rapat tersebut. “Kesimpulan setelah Rapat Komisi III DPR dengan KOMPAK: Kita sudah tidak perlu DPR lagi …. Mari berjuang sendiri …. Di Republik ini sahabat rakyat tinggal mass-media ….”

“Komisi 3 DRI RI = KOMISI Untuk Buaya,” tulis Taufik Bin Thalib.

“Pastinyalah komisi 3 dukung gerakan buaya… kalo cicak bisa dimatiin kan lumayan buat 5 tahun ke depan….. :) ,” cetus Anom Wisnu.

(mok/Rez)

http://www.detiknews.com/read/2009/11/11/050730/1239349/10/gerakan-facebookers-kecam-komisi-iii-dekati-angka-25-ribu

Oleh: bebaskanbibitchandra | November 11, 2009

Kelompok Antikorupsi Terus Bergerak

JAKARTA – Dukungan terhadap pemberantasan korupsi terus mengalir dalam beragam cara. Ada yang mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi dan tim pencari fakta, ada juga yang mengecam sikap Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat.

Setelah ribuan orang tumplek di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad lalu, kemarin puluhan perwakilan lembaga swadaya masyarakat beraksi di simpang empat Bank Indonesia, Jambi. Mereka beraksi atas nama Gerakan Rakyat Dukung KPK (Garda KPK) Jambi.

Selain menegaskan dukungan terhadap KPK, kelompok itu meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikap tegas terhadap aparat hukum yang justru menghambat pemberantasan korupsi. “Kalau tak bisa menyelesaikan kasus ‘cicak melawan buaya’, sebaiknya SBY meletakkan jabatan,” kata seorang demonstran.

Di Makassar, Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia Wilayah XV Sulawesi Selatan menggelar diskusi publik soal kasus Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Di akhir diskusi, para mahasiswa, akademisi, dan aktivis mendesak tim pencari fakta, yang dibentuk Presiden Yudhoyono, mengeluarkan rekomendasi untuk pembebasan Bibit dan Chandra dari upaya kriminalisasi.

“Rekomendasi itu penting agar tidak melukai rasa keadilan masyarakat,” kata Mappinawang, mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Makassar, yang menghadiri diskusi itu.

Di dunia maya, penggemar jejaring sosial Facebook terus melakukan perlawanan. Dukungan atas kelompok “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto” terus bertambah melampaui target. Hingga pukul 21.00 kemarin, sebanyak 1.171.216 penggemar telah menyampaikan dukungan terhadap KPK melalui kelompok ini.

Kelompok lain yang muncul belakangan, “Gerakan Sejuta Facebookers Kecam Komisi 3 DPR RI Yang Mendukung Gerakan Buaya”, juga terus memanen dukungan. Tadi malam, dukungan atas kelompok ini melewati angka 17 ribu orang.

Mereka memprotes kelakuan anggota Komisi Hukum DPR yang dianggap pro terhadap Kepolisian RI dalam kasus Bibit dan Chandra. “Komisi III DPR RI yang terhormat… dagelan yang kalian suguhkan sungguh menyedihkan!” tulis Herman Susilo Age, anggota kelompok itu, dalam komentarnya. SYAIPUL BAKHORI | ARIFUDDIN KUNU | JAJANG

 

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/11/10/headline/krn.20091110.181508.id.html

Oleh: bebaskanbibitchandra | November 9, 2009

Facebooker Ramai-ramai Kecam Komisi III DPR

Muncul ‘Gerakan Sejuta Facebookers Kecam Komisi 3 DPR RI Yang Mendukung Gerakan Buaya’

VIVAnews - Sikap yang ditunjukan Komisi III dalam rapat kerja dengan Kapolri dan jajarannya menuai kritik tajam.

Para pengguna laman jejaring sosial, Facebook alias para Facebooker lantas ambil sikap.

Melalui grup ‘Gerakan Sejuta Facebookers Kecam Komisi 3 DPR RI Yang Mendukung Gerakan Buaya’ para Facebooker menyatakan kekecewaannya terhadap sikap para wakil rakyat yang seharusnya memihak pada rakyat.

“Secara mengejutkan, komisi 3 DPR RI mendukung secara terbuka langkah-langkah yang dilakukan oleh Mabes Polri untuk menuntaskan kriminalisasi KPK,” demikian yang dituliskan dua moderator grup, Hananto Wasisto dan Arif Hidayat.

“Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kapolri dan Komisi 3 DPR RI, Kamis, 5 November 2009 terlihat jelas betapa berpihaknya komisi 3 DPR RI kepala Kapolri.”

“Apa yang disuarakan oleh rakyat ternyata tidak bisa diterjemahkan oleh anggota DPR RI yang duduk di Komisi 3.”

“Terlihat jelas sandiwara yang sangat menyakitkan rakyat Indonesia.
Inilah wajah sebenarnya dari parlemen kita yang sebenarnya tidak menginginkan pemberantasan korupsi terjadi di Indonesia.”

Dalam grup tersebut juga dipajang nama pimpinan Komisi III yakni Ketua Komisi III, Benny K Harman (Demokrat), Wakil Ketua, Tjatur Sapto Edy (PAN), Azis Syamsuddin (Golkar), dan Fahri Hamzah (PKS).

Hingga pagi ini, Senin 9 November 2009 pukul 08.10 WIB, sebanyak 9.485 facebooker menyatakan dukungan dan bergabung dengan grup ini.

http://korupsi.vivanews.com/news/read/103767-facebooker_ramai_ramai_kecam_komisi_iii_dpr

 

Oleh: bebaskanbibitchandra | November 8, 2009

Facebookers Galang Dukungan Mengecam Komisi III DPR

Minggu, 08 November 2009 | 18:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Situs jejaring Facebook sekali lagi dijadikan ajang perlawanan. Kali ini pengguna Facebook mengumpulkan pendukung kecaman bagi Komisi Hukum alias Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat. Hingga pukul 18.00 sore ini, anggotanya telah mencapai 4.721 orang.

Judul laman kelompok ini lumayan panjang, yakni Gerakan Sejuta Facebookers Kecam Komisi 3 DPR RI Yang Mendukung Gerakan Buaya. “Ini keprihatinan terhadap sikap anggota Komisi III yang secara terbuka justru bertindak seperti Humas Kapolri dan membela Kapolri,” ujar Arif Hidayat, pencipta kelompok tersebut, via telepon, Minggu (8/11).

Menurut dia, pernyataan anggota Komisi Hukum saat rapat dengar pendapat dengan Kepolisian seperti yang ditayangkan langsung di televisi hari Kamis malam hingga Jumat dini hari itu bertentangan dengan kondisi di masyarakat. “Kini masyarakat sedang gencar menyorot Polri terkait dengan kriminalisasi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Masyarakat tadinya berharap anggota Komisi III bisa menempatkan fungsinya sebagai pengawas, tapi rapat tersebut justru memperlihatkan dagelan dan sandiwara,” tuturnya.

Wiraswastawan yang tinggal di Jakarta tersebut berpendapat itulah wajah sebenarnya dari parlemen yang tidak menginginkan pemberantasan korupsi terjadi di Indonesia.

Untuk menunjukkan masyarakat bisa bersikap kritis, ia berinisatif membuat Grup Facebook itu Jumat (6/11) lalu pukul lima sore. Ia berharap parlemen bisa membaca bahwa publik tak sepakat dengan sikap yang ditunjukkan dalam rapat itu. “Dalam pemilihan umum lalu masyarakat ingin ada perubahan yang dilakukan oleh anggota DPR. Tapi setelah melihat proses rapat dengar pendapat, ternyata harapan itu masih jauh,” ucapnya dengan nada kesal.

Mengingat kesuksesan kelompok Facebook pendukung Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, pria kelahiran Sumbawa itu optimistis target sejuta anggota bagi kelompok pengecam Komisi Hukum ini bisa tercapai pula. Sebabnya, pengguna Facebook kini sadar bahwa suara di dunia maya bisa pula mempengaruhi kebijakan penguasa.

Salah seorang anggota kelompok ini, Suhaidi Adi Agus, menyatakan Komisi Hukum hanya mencari perhatian. “Tapi malah makin ketahuan kualitasnya, hahaha,” tulisnya dalam laman Gerakan.

Selain gerakan ini, di Facebook ada pula kelompok lain yang mengecam Komisi Hukum. Kelompok bertajuk Gerakan 1.000.000 Facebookers Mosi Tidak Percaya Kepada Komisi III DPR-RI tersebut baru beranggotakan 584 orang.

BUNGA MANGGIASIH

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/11/08/brk,20091108-207081,id.html

 

Oleh: bebaskanbibitchandra | November 8, 2009

Muncul ‘Gerakan Sejuta Facebookers Kecam Komisi III DPR’

Jakarta – Perlawanan online kini menjadi senjata favorit publik melawan ‘kejanggalan’. Setelah gerakan mendukung Bibit dan Chandra sukses menembus angka sejuta facebookers, bahkan jumlahnya terus bertambah, kini muncul gerakan mengecam Komisi III DPR.

Perlawanan satu ini bertema “Gerakan Sejuta Facebookers Kecam Komisi 3 DPR RI Yang Mendukung Gerakan Buaya“. Hingga pukul 13.50 WIB, Minggu (8/11/2009) jumlah membernya nyaris 2.500.

Gerakan ini muncul sebagai bentuk keprihatinan pada Komisi III DPR RI yang mendukung secara terbuka langkah-langkah yang dilakukan oleh Mabes Polri untuk menuntaskan kriminalisasi pimpinan KPK.

Arif Hidayat, inisiator gerakan ini menyatakan, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kapolri dan Komisi III DPR RI, Kamis (5/11/2009) terlihat jelas betapa berpihaknya Komisi III DPR RI kepala Kapolri. Apa yang disuarakan oleh rakyat ternyata tidak bisa diterjemahkan oleh anggota DPR RI yang duduk di Komisi III.

“Terlihat jelas sandiwara yang sangat menyakitkan rakyat Indonesia. Inilah wajah sebenarnya dari parlemen kita yang sebenarnya tidak menginginkan pemberantasan korupsi terjadi di Indonesia,” tulis aktivis LSM ini.

Dalam grup tersebut juga ditulis unsur pimpinan Komisi III yaitu Benny K Harman (PD),  Tjatur Sapto Edy (PAN), Azis Syamsuddin (Golkar) dan Fahri Hamzah (PKS).

“Mana fungsi artikulasi DPR? Belum apa-apa sudah jadi corong partai or The Man behind,” komentar member ber-ID Satrio Hadisaputro.

“Mendukung Kepolisian untuk cari teman untuk mengeroyok KPK. Kan DPR ketakutan kalau-kalau KPK bongkar segala korupsi yang ada di DPR,” komentr Hisyam Nur.

“Untuk kader PKS di Komisi 3…please tunjukkan keadilan pada pemilihmu,” komentar Yuli Ananto Bhakti.
(nrl/irw)

http://www.detiknews.com/read/2009/11/08/144344/1237496/10/muncul-gerakan-sejuta-facebookers-kecam-komisi-iii-dpr

 

Tulisan Sebelumnya »

Kategori